PENA 98 TOLAK DUKUNG CAPRES PENUNGGANG AGAMA DAN POLITIK IDENTITAS
PENA 98 TOLAK DUKUNG CAPRES PENUNGGANG AGAMA
DAN POLITIK IDENTITAS
Persatuan
Nasional Aktivis 98 (Pena 98) menolak tegas calon presiden yang memiliki rekam
jejak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu hingga terlibat politik
identitas. Sebab, dua kriteria capres tersebut bertentangan dengan semangat
reformasi 1998.
Hal itu
ditegaskan Presidium Nasional 98 Bali Oktaviansyah NS saat jumpa pers di Graha
Pena 98, Jalan HOS Tjokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/5).
“Kita tetap
konsisten, kita tidak menginginkan capres yang terlibat dalam pelanggaran HAM
dan juga menggunakan politik identitas,” tegas Oktaviansyah.
Oktaviansyah
menilai, dari sejumlah nama bacapres pada Pemilu 2024 yang muncul, Ketua Umum
Partai Gerindra Prabowo Subianto disinyalir terlibat pelanggaran HAM masa lalu.
Hal itu dipertegas dengan pernyataan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang
menyatakan mantan Danjen Kopassus itu terlibat penculikan aktivis 1998.
“Ketika
bicara pelanggaran HAM maka kita berbicara tentang penculikan aktivis saat itu.
Salah satunya ya dari hasil DKP bahwa ternyata memang Bapak Prabowo terlibat
dalam diduga terlibat dalam penculikan aktivis,” tuturnya.
Meskipun,
kata Oktaviansyah, pembuktian bahwa Prabowo Subianto terlibat pelanggatan HAM
sampai sekarang pembuktiannya masih “bolak-balik”.
“Tapi, itu
sudah cukup menjadi sebuah acuan bagi kami kami tidak menginginkan capres yang
terlibat dalam pelanggaran HAM,” tegas eks aktivis Pospera Bali itu.
Adapun,
mengenai capres yang diduga terlibat politik identitas, Oktaviansyah menyebut
kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2017 silam sangat kental dengan nuansa politik
identias yang mengarah pada Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Anies
Baswedan menjadi salah satu pihak yang disinyalir terlibat dalam politik
identitas itu.
“Pelaku
politik indentitas saat itu yang kami tenggarai sangat dekat dengan isu
tersebut adalah Anies Baswedan. Karena itu kami juga menolak Anies Baswedan,”
pungkasnya.

Komentar
Posting Komentar