FAHRI HAMZAH: KLARIFIKASI UANG 50 M LUNAS BILA MENANG ADALAH BENTUK PERENCANAAN KORUPSI...!!!
FAHRI HAMZAH: KLARIFIKASI UANG 50 M LUNAS BILA
MENANG ADALAH BENTUK PERENCANAAN KORUPSI...!!!
Mantan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memberikan klarifikasi terkait heboh
utangnya kepada Sandiaga Uno sebesar Rp50 miliar. Dia membantah jika uang itu
merupakan utang. Menurutnya, uang tersebut merupakan dukungan dengan janji
politik tertentu.
Anies
menjelaskan, jika Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 berhasil membawa Anies
Baswedan dan Sandiaga Uno menjadi gubernur dan wakil gubernur, pinjaman Rp50
miliar itu dianggap lunas dan selesai. Namun, jika pasangan Anies-Sandiaga
kalah, pinjaman harus dibayarkan atau dilunasi.
Lebih lanjut
Anies mengatakan, uang Rp50 miliar tersebut bukan milik Sandiaga Uno, melainkan
dari pihak ketiga melalui Sandiaga Uno dan dia yang menandatangani surat
perjanjian itu.
"Jadi
itu dukungan, siapa penjaminnya? Penjaminnya Pak Sandi. Jadi uangnya bukan dari
Pak Sandi. Itu ada pihak ketiga yang mendukung, kemudian saya yang menyatakan,
ada suratnya, surat pernyataan utang saya yang tanda tangan," jelasnya,
dikutip Senin (13/2/2023).
"Di
dalam surat itu disampaikan apabila Pilkada kalah, saya berjanji, saya dan Pak
Sandiaga Uno berjanji mengembalikan. Saya dan Pak Sandi, yang tanda tangan
saya. Apabila kami menang Pilkada, ini dinyatakan sebagai bukan utang dan tidak
perlu, artinya selesai lah kira-kira," papar Anies Baswedan saat diundang
ke podcast milik Merry Riana.
Menanggapi
klarifikasi Anies tersebut, Fahri Hamzah memberi sentilan keras. Menurut Fahri
Hamzah, tindakan itu merupakan korupsi yang nyata.
Apalagi,
dianggap lunas setelah berkuasa. Hal tersebut bisa mengarah pada bentuk kerja
sama yang tidak sehat dari pemerintah di mana Anies sebagai gubernur dan pihak
ketiga yang memberikan pinjaman dana kampanye tersebut.
"Pinjam
meminjam uang di belakang layar dengan janji lunas setelah berkuasa adalah
bentuk perencanaan korupsi yang sangat kasat mata, praktik ini harus kita
hentikan kalau kita ingin Indonesia bebas dari korupsi,
#StopBiayaPolitikIlegal," tulis Fahri Hamzah melalui akun Twitternya,
dikutip Senin (13/2/2023).
"Kalau
jadi kandidat dan ternyata juga disuruh menanggung biaya pemilu dan kampanye,
ya mendingan tidak maju. Kita jangan pernah merasa seolah saking bangsa ini
memerlukan kita lalu kita merusak prinsip kita demi tujuan itu. Bangsa ini
tidak membutuhkan kita dengan cara itu," tegasnya kembali.
Namun
demikian, Fahri Hamzah mengatakan dia tidak sedang membicarakan siapa-siapa.
Yang dibicarakan adalah sistem pembiayaan kampanye dan pemilu yang harus
dibersihkan dari peluang masuknya dana-dana haram dan ilegal.

Komentar
Posting Komentar