TAK ADA NEGARA SEDETAIL INDONESIA TANGANI INFLASI
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)
meyakini bahwa tidak ada negara lain yang melakukan kerja sedetail Indonesia
dalam upaya pengendalian inflasi.
Menurut Presiden Jokowi, saat memberi
pengarahan dalam Investor Daily Summit 2022 di Jakarta, Selasa, umumnya dalam
upaya pengendalian inflasi negara-negara hanya bertindak melalui bank sentral
yang menaikkan suku bunga.
"Tapi kita tidak hanya urusan
menaikkan suku bunga yang itu menjadi kewenangan dari Bank Indonesia, tetapi
dalam praktik riil kita juga langsung masuk ke sumbernya, yaitu apa? Kenaikan
barang dan jasa," katanya.
Presiden Jokowi menjabarkan setidaknya
sudah dua kali ia mengumpulkan seluruh kepala daerah untuk pengarahan terkait
pengendalian inflasi dan akan terus dilakukan secara berkala dibarengi evaluasi
setiap dua pekan sekali.
Bersamaan dengan pengarahan tersebut,
Presiden Jokowi mengaku telah memberikan kewenangan kepada daerah untuk
menggunakan Dana Transfer Umum (DTU) sebesar dua persen dan juga pos anggaran
belanja tidak terduga di postur APBD masing-masing dalam upaya-upaya
pengendalian inflasi.
"Misalnya ada kenaikan bawang merah
di sebuah provinsi, sebutlah Lampung, sumber bawang merah dimana, Brebes.
Karena harga bawang merah naik di Lampung, pemda bisa langsung beli ke Brebes
atau menutup ongkos transportasi dibebankan ke APBD," kata Presiden
Jokowi.
Menurutnya, setelah dihitung, biaya yang
harus dikeluarkan untuk menutup ongkos pengangkutan komoditas pangan tersebut
relatif murah.
Presiden Jokowi memberikan contoh lain,
misalkan ada kenaikan harga telur ayam di Jabodetabek yang mendorong kenaikan
inflasi, hal itu juga bisa ditanggulangi dengan menyambungkan kebutuhan itu ke
daerah produsen komoditas, semisal Blitar.
"Sudah ongkos angkut dari Blitar ke
Jabodetabek ditutup oleh pemda. Sehingga harga itu adalah harga peternak, harga
petani," katanya.
"Cari negara yang kerja kayak kita
sedetail itu, enggak ada. Pengendaliannya pasti makro oleh bank sentral,"
ujar Presiden Jokowi.
Kerja detail tersebut pula yang diklaim
Jokowi cukup membantu pengendalian inflasi yang lebih rendah dari perkiraan
akan mencapai 6,8 persen menyusul penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Kemarin dihitung 6,8 persen,
jatuhnya di 5,9 persen karena pemda-pemda sudah mulai bergerak ke sana. Saya
cek, cek, cek, secara sampling sudah bergerak," katanya.
Presiden juga mengingatkan bahwa
Indonesia relatif baik dalam hal pengendalian inflasi dibandingkan negara lain
seperti Argentina yang sudah mencapai 83,5 persen.
Menurut Jokowi, hal itu juga cukup
terbantu oleh kinerja Bank Indonesia selaku bank sentral dengan Kementerian
Keuangan yang bekerja beriringan, sarat komunikasi, dan minim tumpang tindih.
"Yang saya lihat dalam keseharian
antara bank sentra kita, BI, dengan Kementerian Keuangan ini berjalan
beriringan, berjalannya rukun, tidak saling tumpang tindih. Ini yang saya
lihat, komunikasinya baik, sehingga fiskal dan moneter itu bisa berjalan
bersama-sama," ujarnya.

Komentar
Posting Komentar